|
Harga CPO pada 2010 diperkirakan booming dan memberi keuntungan bagi Indonesia. Diperkirakan harga CPO pada awal 2010 mencapai titik tertinggi di level US$800 per ton pada Januari-Februari.
Sekarang harganya sekitar US$765 per ton. Perkiraan itu diungkapkan oleh praktisi industri minyak sawit dari dalam dan luar negeri di International Palm Oil Conference (IPOC) 2009, Nusa Dua, Bali (Bisnis Indonesia, 3 Desember 2009). Permintaan CPO AS terus naik. Tren konsumsi minyak nabati AS melonjak hingga 60% sepanjang periode 2002-2009. Padahal, periode 1998-2001, tren konsumsi ini rata-rata 7% per tahun. Pada 2008, konsumsi CPO AS tercatat 1,08 juta ton. Kebutuhan minyak CPO naik karena kebijakan negara itu menggunakan bahan bakar nabati. Setidaknya sekitar 173 unit pabrik biodiesel beroperasi dan tersebar di sejumlah lokasi di AS. Sementara itu, India, konsumen terbesar kedua dunia untuk minyak makan, diduga tidak akan menetapkan pajak impor komoditas itu. Inflasi pangan menjadi isu di India. Ini akan mendorong CPO dalam waktu dekat karena pemerintah tidak akan memperhitungkan pajak impor. Tidak adanya pajak impor itu akan mendongkrak pembelian CPO. India dipastikan akan belanja lebih banyak CPO dari pasar internasional. Diproyeksikan produksi biodiesel dunia akan naik 3,2 juta-3,3 juta ton sepanjang 2010 yang dipimpin pertumbuhan produksi Jerman sekitar 2,73 juta ton.Sepanjang 2009, produksi biodiesel dunia mencapai 15,9 juta ton dari kapasitas produksi terpasang 46 juta-47 juta ton. Peixian Hu mengatakan China dipastikan mengonsumsi lebih dari 6 juta ton CPO pada 2010. Sayangnya, impor dari Indonesia nyaris stagnan pada volume tak lebih dari 2 juta ton. Peluang ini akhirnya diambil oleh Malaysia yang memasok lebih dari 50% kebutuhan China. Pertumbuhan permintaan CPO tahun depan juga diindikasikan oleh pembeli di Asia Barat yang diperkirakan naik sekitar 8%-10% atau sekitar 400.000 ton pada 2010. Pertumbuhan permintaan tinggi dipimpin oleh Arab Saudi, Turki, Iran, dan Pakistan yang mengonsumsi CPO terbanyak dibandingkan dengan konsumsi minyak nabati lain. Pangsa pasar CPO di Arab Saudi mencapai 63,8%, Turki sekitar 45,6%, Iran 40,7% dan Pakistan 50,12% dibandingkan dengan minyak nabati lain. Kabar gembira Ada kabar gembira terkait dengan produksi CPO Indonesia. Pada 2008 produksinya mencapai 19,2 juta ton. Angka ini melampaui Malaysia di level produksi 17,08 juta ton pada ta-hun yang sama. Pencapaian ini lebih cepat dari yang diprediksi sebelumnya, dimana Indonesia dinyatakan baru akan menjadi penghasil CPO nomor satu di dunia pada 2010. Hal ini terungkap saat berlangsung Kongres Tahunan MAKSI belum lama ini di Bogor. Jika dicermati, volume ekspor CPO Indonesia terus meningkat menjadi 12,5 juta ton pada tahun 2008 dengan luas lahan 8,127 hektare dan produktivitas tanaman sawitnya sebesar 3,7 ton/hektare. Pemerintah menargetkan pada 2020 produksi CPO mencapai 40 juta ton atau 2 kali lipat dari produksi saat ini. Hal ini akan dicapai dengan dua pendekatan yakni perluasan areal dan peningkatan produktivitas. Luas areal perkebunan akan menjadi 9,127 juta hektare dengan produktivitas sawit mencapai 4,5 juta ton/hektare. Sumber : Bisnis Indonesia |